My Instagram

My Instagram
My #2015bestnine in Instagram is still the best :)

Sabtu, 15 April 2017

Puisi Alay

PHP

Oleh : Putu Bagus Kresna P.


Parasmu ayu
Usahamu menarikku
Tiada yang lain
Untukku kau dunia

Apakah mungkin bersama ?
Yakinkah aku ?
Untukmu aku apa ?

Salah mungkinku
Untuk berharap lebih
Akankah terus begini
Sakit hati
Terulang berjuta kali
Ini mungkin yang terbaik
Demi masa tua
Elakkan masa hitam putih
Walau sakit
Inilah nasib cintaku

Ulu Apad di Bayung Gede.

Tradisi Ulu Apad

Apa itu Ulu Apad dan Bayung Gede ? Pertanyaan tersebut pasti langsung tersirat ketika membaca judul artikel ini.

Bayung Gede adalah nama sebuah desa yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa ini terletak sekitar 55 kilometer di timur laut Denpasar serta sekitar 35 kilometer utara Bangli. Terdapat 2 jalur untuk mencapai Bayung Gede; bisa dari jalur Payangan-Kintamani maupun Bangli-Kintamani. Desa ini berada pada ketinggian sekitar 800-900 meter dari atas permukaan laut. Oleh karena itu Bayung Gede senantiasa berhawa sejuk. Dengan iklim semacam itu, pertanian lahan kering merupakan andalan warga desa. Dibalik lokasi dan iklimnya yang mendukung sektor pertanian, ada satu hal spesial yang dimiliki oleh Desa Bayung Gede. Lagi-lagi muncul pertanyaan yang sama. Apa itu ?

Dilansir dari skripsi milik Ni Ketut Nugrahaningari, sarjana antropologi Universitas Udayana; Desa Bayung Gede merupakan desa Bali kuno yang memiliki adat, budaya dan tradisi yang berbeda dengan daerah lainnya di Bali. Perbedaan budaya dikarenakan masyarakat Desa Bayung Gede merupakan penduduk Bali Mula (Bali asli-red) yang sudah mewarisi tradisi Bali kuno sebelum migrasi orang Jawa saat runtuhnya Kerajaan Majapahit. Faktor geografis di pegunungan juga menyebabkan sulitnya kontak budaya dengan masyarakat luar. Teguhnya masyarakat Bali Mula di Desa Bayung Gede dalam melestarikan budaya aslinya tercermin pada proses pemilihan pemimpin yang didasarkan kesepakatan yang diwarisi secara turun-temurun.

Berdasarkan hasil penelitian lapangan, wawancara dan sumber kepustakaan menunjukkan bahwa Ulu Apad adalah struktur adat dan politik lokal masyarakat Bali Mula yang bersifat komunal dan berprinsip kolektif kolegial. Posisi kepemimpinan pemerintahan adat dan semua posisi jabatan pendukungnya diurut berdasarkan senioritas pernikahan dari 164 krama desa pengarep atau warga utama yang wajib mengabdikan hidupnya di desa. Adanya perolehan hak kepemimpinan adat merupakan status sosial yang diperoleh seseorang dalam lingkungan masyarakat yang bukan didapat sejak lahir. Status tersebut diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat.

Jero Kubayan Mucuk merupakan sebutan pemimpin sistem Ulu Apad pemerintahan adat Bali Mula di Bayung Gede. Jero Kubayan Mucuk yang saat ini menjabat baru dapat menjadi orang nomor 1 setelah 50 tahun mengabdi di desa sejak menggantikan orang tuanya yang meninggal. Beliau telah melalui berbagai tingkat jabatan dan berbagai jenis ritual penyucian diri, hingga akhirnya mendapatkan legitimasi sebagai pemimpin sistem Ulu Apad. Pembagian tugas dalam sistem kepemimpinan masyarakat Bali Mula dimasa lalu lebih mengatur adat istiadat. Namun pada era modern dewasa ini, berbagai permasalahan baru langsung menyentuh kehidupan masyarakat Desa Bayung Gede. Bukan hanya persoalan adat, namun juga persoalan sosial, politik, budaya, pariwisata, ekonomi, hukum, kesehatan dan pendidikan. Meskipun kini terdapat penambahan posisi kepemimpinan bendesa adat dan kepala desa dalam tata pemerintahan di Desa Bayung Gede, namun yang mendapat legitimasi atau pengakuan kepemimpinan utama adalah pemimpin sistem Ulu Apad. Seorang pemimpin ditingkat lokal diharapkan juga memiliki berbagai macam kualitas agar dapat mengayomi masyarakatnya dalam menghadapi peluang, tantangan, dan realitas kehidupan modern. Itulah Ulu Apad di Bayung Gede. (Bgs)

*tulisan ini pernah dimuat di web www.persakademika.com

Prof. Windia Salahkan Pemerintah dalam Film Taiwan TV

Prof Windia saat memberi kuliah umum

“Pemerintah yang secara sistematis menghancurkan subak,” ucap Prof. Windia saat direkam oleh crew pembuatan film dokumenter subak dari Taiwan TV di Agrokomplek UNUD (15/5).

Prof. Dr. Wayan Windia, M.S. adalah Guru Besar Fakultas Pertanian dan Kepala Pusat Penelitian Subak Universitas Udayana. Dalam kuliah umum tentang subak yang digelar mendadak senin lalu, Prof. Windia membahas banyak hal tentang subak dan pertanian di Bali. Ia mengatakan bahwa petani sekarang merasa tercekik oleh pajak tinggi yang diterapkan oleh pemerintah. Besarnya pajak yang berlaku pada petani semakin tinggi tergantung dari lokasi sawah / subaknya. Jika terletak di kawasan pariwisata maka pajaknya semakin tinggi, padahal pendapatan mereka belum tentu bertambah. “Petani kok nilai asetnya yang dinaikkan? Kalau pegawai pajaknya naik kan kalau gajinya naik,” terangnya pada mahasiswa.

Prof. Windia menghimbau para mahasiswa dan penonton film dokumenter Subak karya Taiwan TV agar selalu membela para petani. Ini dikarenakan petani saat ini mayoritas belum mampu melindungi dirinya sendiri. “Nyari koran mereka nggak bisa. Ngirim surat untuk pemerintah nggak tahu caranya,” jelas Windia. Ia juga menjelaskan bahwa subak itu harus kuat menolak alih fungsi lahan. Kalau sampai terjadi pembangunan pada suatu subak, itu artinya subak tersebut tidak kuat. “Misalnya subak di Peguyangan ada pembangunan. Batunya dibuang sama anggota subak disana. Pasirnya juga dibuang. Kalau sudah ada satu rumah masuk, rumah-rumah lain akan menyusul dan rusaklah subaknya. Bisa jadi pekasehnya (ketua subak; red) itu calonya,” ucap Windia.

Liu Soung, director Bow Wow Productions dari Taiwan TV mengatakan bahwa mereka membuat film dokumenter untuk Public Television System (PTS) di Taiwan. PTS merupakan organisasi non profit yang mengangkat isu kebudayaan & sosial. “Taiwan saat ini menghadapi tantangan serius di bidang pertanian. Banyak pembangunan terjadi di areal pertanian dimana para petani menghadapi masalah yang serius,” jelasnya dalam Bahasa Inggris. Oleh karena itu Liu Soung dan timnya berpikir untuk berkeliling dunia membuat film dokumenter sebagai tontonan bagi orang Taiwan.

“Ketika mereka menghadapi tantangan seperti itu, apa yang bisa mereka lakukan? Dan kami melihat budaya 1000 tahun di Bali yang sangat hebat dan tetap bertahan ditengah globalisasi. Banyak tradisi menghilang tapi subak di Bali sangat hebat bisa bertahan. Orang-orangnya, tanahnya, budayanya sangat hebat dan kami rasa film tentang subak ini akan memberikan wawasan baru bagi orang Taiwan,” terang Liu Soung panjang lebar. Film dokumenter tentang subak ini rencananya akan selesai pada tahun 2019 nanti. Ini karena Liu Soung dan timnya juga harus pergi ke beberapa negara lain untuk melanjutkan pembuatan film dokumenter tersebut sebelum diedit dan dipublikasikan. “Kita harus bangga akan subak tidak hanya berjasa bagi Indonesia, tapi juga pada dunia,” tutup salah satu crew Taiwan TV sebelum meninggalkan Agrokomplek Universitas Udayana. (Bagus)

*tulisan pernah dimuat dalam web www.persakademika.com